Enter your keyword

post

Belajar Hidup Sederhana

“Hidup sederhana mungkin tidak memberikan kesenangan,
tapi itu akan membawa kebahagiaan”

“Baju seperti gitu dipakai, ganti ganti!”, Demikian kata bu Sum pada suaminya pak No.

“Lho memangnya kenapa?”, tanya pak No walaupun ia sudah maklum akan sikap istrinya

“Nggak, pokoknya ganti”, bu Sum ngotot.

Untuk urusan baju, pak No selalu mengalah. “Biar ga berlanjut”, ujar pak No. Walaupun demikian ia terkadang galak juga terhadap istrinya untuk hal-hal yang prinsip. Nah, bu Sum ini adalah tipe orang seperti kebanyakan kita juga, kadangkala (atau seringkali) bersikap atas dasar ‘apa yang dipandang orang’. Khawatir kalau orang memandang jelek dan ingin dipandang ‘ok’.

Hal lain yang membuat seseorang tidak hidup sederhana adalah kenikmatan. Coba bayangkan kalau seseorang mau cari tempat makan atau mau menyajikan makanan, kebanyakan akan memilih ‘yang enak’. Lalu kriteria sehat akan ditempatkan sesudahnya (itupun kalau sadar). Kriteria sederhana? Mungkin paling belakang. Contohnya, dalam suatu perjamuan resepsi pernikahan atau jenis perjamuan lainnya daging lebih dipilih daripada tempe. Bukan karena daging mempunyai asam amino lengkap, vitamin B12 dan kadar lemak baik yang dibutuhkan tubuh, tapi karena daging lebih enak, mewah dan terlihat ‘pantas’ daripada tempe yang tentu saja juga memiliki keunggulan komposisi nutrisi. ‘Lah waras lah, milih yang enak dong’ atau ‘Ga enak lah, tamu masak disajikan makanan yang biasa-biasa aja’.

Manusia kebanyakan memang senang akan sesuatu yang mewah, yang keren, tidak mau yang biasa-biasa saja. Bahkan yang terkait spiritual seperti tempat ibadahpun banyak dibangun mewah (baca: Hidup Sederhana Dipuji Namun Dihindari) karena ingin dilihat bagus, mengagumkan, dipuji orang dan seterusnya. Begitulah keinginan kebanyakan dari kita bukan? Manusiawi memang. Inilah kecenderungan kita manusia sehingga kita susah untuk hidup sederhana.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ‘sederhana’ berarti bersahaja, tidak berlebih-lebihan . Sementara dalam Wikipedia kata ‘kesederhanaan’ berarti properti, kondisi atau kualitas ketika segalanya dapat dipertimbangkan untuk dimiliki.

Mahal belum tentu mewah, murah belum tentu sederhana, tapi semua dipikirkan untuk dipenuhi sesuai fungsi dan mencukupi kebutuhan. Kalau kita bahas secara logis hidup sederhana memberikan banyak hal positif seperti:

  • Hemat (sehingga memiliki uang lebih untuk hal yang lain)
  • Efisien (hidup akan berjalan efisien)
  • Tenang (kekhawatiran akan berkurang, pikiran lebih ringan)
  • Damai (pikiran-pikiran positif muncul semakin banyak membuat pikiran lebih damai)
  • Bermakna (karena hidup sederhana itu baik dan positif serta sesuai anjuran agama)

Mau hidup sederhana?

  • Pahami dan yakini akan kebaikan hidup sederhana
  • Miliki keinginan kuat (sehingga kuat godaan dan dapat mengesampingkan pandangan orang)
  • Lakukan (rasakan bahwa hidup sederhana adalah pilihan yang baik dan tepat sehingga akan tetap konsisten untuk hidup sederhana)

Hidup sederhana seharusnya merupakan kerelaan bukan keterpaksaan. Hidup sederhana dapat menjadi suatu keinginan bila seseorang menyadari betapa baiknya hidup dalam kesederhanaan.

Catatan:

  • Pahami bahwa hidup sederhana itu berawal dari pola pikir
  • Belum tentu masyarakat ekonomi bawah menjalani hidup sederhana dengan baik bila tidak ikhlas dengan hidupnya.
  • Salah satu maha guru hidup sederhana adalah orang dengan tingkat ekonomi bawah yang ikhlas dengan hidupnya (lihat link video dibawah)
  • Seorang pelari professional membeli sepatu lari berharga jutaan bisa jadi adalah sikap sederhana, tapi tidak demikian bila seorang pemuda yang bukan pelari membelinya.
  • Bedakan antara sikap hidup sederhana dan pelit. Hidup sederhana biasanya perlakuan terhadap diri sendiri (bisa berdampak pada keluarga terdekatnya), sementara pelit atau kikir biasanya perlakuan kepada orang lain. Orang yang hidup sederhana bukan karena takut kehilangan uang, sementara orang bersikap pelit biasanya karena takut kehilangan uang. Sebaliknya contoh dari pelit: seseorang tidak memberi upah layak pada karyawannya walaupun ia mampu dan kondisi memungkinkan.

Sementara kemewahan mengejar kesenangan, kenikmatan, keterpandangan yang memanjakan ego diri, hidup sederhana membawa kerendahan hati, ketenangan, kedamaian dan kebermaknaan (baca juga: ‘Tuhan itu adil, kebahagiaan itu sangat sederhana’). Hidup sederhana mungkin tidak memberikan kesenangan, tapi itu akan membawa kebahagiaan! Jadi pilihannya, mau senang-senang atau mau bahagia?

Ok kan ’hidup sederhana’ itu, yuk lakukan.

Karya mahasiswa IKJ video tentang kesederhanaan, berikut linknya: