Enter your keyword

post

Hidup Sederhana, Dipuji Namun Dihindari

Ciloto, 24 Desember 2017, Sabtu malam.

Layaknya daerah pegunungan, malam ini terasa dingin. Langit cukup cerah bertabur kerlip bintang di angkasa. Terdengar sayup-sayup suara sekelompok orang bernyanyi, ‘..hidup sederhana gak punya apa-apa tapi banyak cinta..’,  Owwh itu lagunya Slank, sebuah band terkenal tanah air. Sang empunya suara berasal dari sekelompok anak muda yang sedang mengelilingi api unggun sekitar seratus meter dari tempatku berdiri. Kuarahkan pandangan ke sekitarku. Di arah jam sebelas, terlihat seorang ibu bersama kedua buah hatinya yang berusia sekitar dua dan empat tahun. Aku kenal mereka, sang kepala keluarga sedang bekerja mengurus vila, mereka menunggunya dengan duduk nyaman beralaskan rerumputan diterangi cahaya lampu taman. Di ujung hamparan rumput, terdapat warung kopi mungil yang sedang tidak ada pembeli. Sang empunya- sepasang suami istri-, sedang dikunjungi tamu. Mereka ramai berbicara bak sahabat yang sudah lama tak jumpa.

Saya jadi memikirkan kembali tentang makna hidup sederhana. Ya, saat itu saya sedang menyaksikan suasana kesederhanaan, jauh dari kemewahan dan gemerlap kehidupan kota. Menjelang esok hari-tanggal 25 Desember-, umat Kristiani memaknai sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, di mana oleh umat Islam dikenal sebagai Isa Al Masih. Yesus diyakini terlahir di tempat yang sangat sederhana, di tempat layaknya kandang dan diletakkan di palungan. Ia kemudian dibesarkan dan diasuh oleh keluarga tukang kayu. Tulisan-tulisan lain tentang Yesus selalu menggambarkan kesederhanaan dan kebersahajaan. Tetapi tidak hanya iman Kristiani, teladan-teladan umat lainnya juga menggambarkan kesederhanaan dan kebersahajaan.

‘Rumah itu sangat kecil dengan hamparan tikar yang usang dan nyaris tanpa perabot’, demikian tulisan pada laman nu.or.id menceritakan tempat tinggal Muhammad. Disebutkan pula, baju sampai tempat tidurnya yang sangat sederhana.

Sementara laman republikbm.blogspot.co.id menulis bahwa Buddha Gotama cukup dengan selembar kain kuning untuk menutup tubuhnya. Dalam waktu 24 jam, ia hanya makan satu kali sebelum pukul 12 siang, tinggal di tempat yang sunyi jauh dari kemewahan, dekat dengan alam dan menyatu dengan jiwa.

Apa yang bisa kita maknai dari kederhanaan Yesus, Muhammad atau Buddha Gotama? Saya semakin yakin untuk menjawab setelah melihat ibu-anak, penjaga warung dan sekelompok anak muda tersebut. Saya lihat saat itu mereka tampak tenang, damai, bermakna atau saya mengatakan mereka bahagia. (baca: Makna Bahagia Sedang Dizalimi)

Apakah dengan demikian hidup sederhana diinginkan oleh sebagian besar umat? Tampaknya kecenderungan manusia tetap senang yang ‘wah’. Rumah-rumah ibadah banyak dibangun megah (mohon dibedakan antara besar-kokoh dan megah), seringkali perayaan ibadah berlangsung mewah, begitupula hidangan sesudah melaksanakan prosesi ibadah, sering tersaji lengkap dengan banyak pilihan berdasarkan ‘azas’ kenikmatan, seringkali hal itu dianggap etika menjamu tamu secara layak. Kehidupan memang selalu mengarahkan orang untuk hidup mewah. Handphone lebih mahal, baju lebih keren, motor lebih bagus, mobil lebih kinclong, rumah lebih mentereng dan seterusnya.

Walau demikian manusia tetap saja memuji kesederhanaan. Tokoh-tokoh seperti Warren Buffet, penampilan kaos oblong pendiri Facebook Mark Zuckerberg, ataupun keseharian presiden Jokowi, banyak dipuji akan kesederhanaannya.

Hidup sederhana, dipuji tapi tetap saja dihindari. Bingung kan? Sudahlah, manusia tak bisa sepenuhnya dimengerti, selalu meninggalkan tanya.

Berikut link youtube NET TV tentang tiga presiden yang hidup sederhana:

Baca juga: Belajar Hidup Sederhana

Baca juga: Kesederhanaan, situasi dan kondisi terbaik mendidik anak