Enter your keyword

post

Tidak bisa berubah? Mungkin saatnya melakukan Revolusi Mental

Apakah anda pusing dengan masalah yang selalu timbul? Kondisi tidak berubah? Tidak pernah tercapai solusi maksimal? Atau bahkan keadaan semakin memburuk? Mungkin saatnya melakukan Revolusi Mental.

Saya suka konsep revolusi mental. Revolusi belum tentu menuju ke arah yang baik, revolusi mental seharusnya menuju ke arah yang baik, karena merubah ‘mental’ kearah yang lebih positif. Perubahan yang mendasar pada batin dan watak, begitulah kira-kira arti gabungan kata ‘revolusi’ dan ‘mental’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Dulu di kelurahan tempat saya tinggal, kebanyakan pegawainya-setahu saya-, berharap ada imbalan dari masyarakat untuk pekerjaan yang sudah seharusnya mereka lakukan, semacam pungutan liar (pungli). “Biayanya lima puluh ribu,” ada yang terang-terangan mengatakan seperti itu. Kalaupun ada yang ‘lebih sopan’ akan berkata “Silahkan berapa saja, tidak juga tidak apa-apa”. Mungkin dia merasa tidak enak karna rekan-rekannya melakukan pungli. Saya rasa dari beberapa lurah yang pernah menjabat, ada juga yang berharap anak buahnya tidak melakukan pungli. Pernah ada lurah yang mungkin ingin menghilangkan kebiasaan pungli dengan mengharuskan masyarakat membawa tanaman bila ingin mengurus sesuatu. Tanaman itu akan ditaruh di halaman kelurahan. Lah ini juga sama saja, walaupun mendidik staf kelurahan tidak menerima uang, tapi bagi masyarakat ya pungli juga namanya. Staf kelurahan sudah digaji pemerintah dan saya yakin banyak masyarakat tidak mampu yang mengurus berbagai hal di kelurahan. Akhirnya tibalah lurah baru, seorang wanita. Sepak terjangnya benar-benar berbeda, dia bahkan mau bertemu warganya di sebuah warung kecil pada tengah malam sesudah acara pertemuan warga. Untuk urusan pungli, dia memasang spanduk besar di kantor kelurahan yang bertuliskan bahwa semua pengurusan dikelurahan, GRATIS. Bahkan ada warga yang berani melaporkan ke wartawan tentang pungli yang dilakukan oknum pengurus pemilihan umum kelurahan dan laporannya dikeluarkan dalam surat kabar. Ini terjadi sebelum konsep revolusi mental digaungkan kembali oleh Presiden Joko Widodo.

Dalam kominfo.id ditulis, gagasan revolusi mental, awalnya dilontarkan oleh Presiden Soekarno pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956. Demikian seruannya:
“Dalam kehidupan sehari-hari, praktek revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong. Revolusi Mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala.”

Inti dari revolusi mental adalah perubahan menuju arah yang lebih baik yang diawali dari mental seseorang, yaitu batin dan wataknya. Revolusi ini bisa menggunakan cara-cara yang ekstrem atau radikal, sesuai dengan temanya: revolusi.

Revolusi mental merubah atau bisa dikatakan membangun pola pikir yang diperlukan. Dengan demikian pembangun mental akan berdampak pada sikap dan kinerja untuk mampu mengadakan perubahan yang diharapkan.

Apa yang perlu dilakukan untuk dapat berevolusi mental?

  • Berani melawan arus, berani berbeda, berani radikal
  • Berani berjalan sendiri bila yang lain tidak sejalan, karna revolusi mental berawal dari perubahan diri
  • Jaga semangat dan teguh pada tujuan agar revolusi mental tidak terputus di tengah jalan
  • Lakukan konsep kesadaran positif pada diri untuk dapat melakukan evaluasi dengan baik agar revolusi mental tetap pada jalur positif
  • Berdoa setiap saat, tentu saja.

Ayo berevolusi dengan revolusi mental!

(Baca juga: Amputasi, Dibuang Sayang Tapi Dibutuhkan)